Monday, August 4, 2008

brain and feets perspectives

Saya sedang berada dalam posisi paling tidak mengenakan dalam hidup saya. Jika memang benar adanya bahwa bumi itu bulat, mungkin saya lagi ada didasar bumi itu dengan segala tumpukan-tumpukan batuan sedimen dikepala saya. *tunggu dulu, apakah ini namanya mengeluh?


Tidak..tidak.. tidak boleh mengeluh.

*menjedukkan kepala memang jalan terbaik untuk menyadarkan diri ini jika sudah berkelakuan diluar batas.


Sebenernya saya kenapa sih?


Kronologis bagaimana ceritanya saya bisa terhempas ke dasar bumi mungkin takkan saya ceritakan detailnya. Hanya saja mungkin secuil alasan akan saya utarakan disini. Akhir-akhir ini setiap kali saya berjalan dimana pun saya berjalan, kaki serta pikiran saya tidak menunjukkan sinkronisasi yang cukup baik sehingga membuat hati saya, yang berposisi di poros tengah, menjadi bingung setengah hidup. Di satu sisi, kaki saya ingin melangkah ke langit, namun pikiran tetap teguh menapaki bumi yang rumit ini. Kaki saya memang tidak berotak! *ya iyalahh.. ahahahahah.. Tapi pikiran saya yang berotak pun terlalu pintar untuk menjaga keinginannya. Hey, kita ini satu bukan? Badan ini punya saya, remember? Ini nih akibat dari adanya values of democracy yang saya terapkan di badan saya membuat saya sebagai head office-nya kelabakan minta ampun. Oleh karena adanya kepentingan-kepentingan tersendiri yang dilancarkan bagian-bagian dibadan saya, saya merasakan seluruh raga ini mulai remuk tak berbentuk.


kasus konkretnya nih ya..

Didalam pikiran saya ada sebuah benda hidup. Dia bergerak seperti air, biru seperti langit, hitam seperti awan ketika hujan namun dia juga bisa bersinar seperti bintang. Pikiranku menaruh benda tersebut secukupnya tanpa beban diruang kecil tersendiri karena ia tahu masih banyak sekali benda-benda lain yang akan bermunculan disitu sehingga ia harus berhati-hati terhadap kuotanya sendiri. Peran hati disini takkan pernah saya singgung, karena beliau terlalu sensitif mendefinisikan segala sesuatu dan membuat saya *secara keseluruhan* ingin berteriak bukan menangis. Lalu apakah kalian tahu, dua kaki saya berkata lain. Mereka ingin berlari. Berlari sekencang mungkin dengan dua tujuan di waktu yang bersamaan dimana terdapat kontradiksi tajam diantara keduanya. Di satu sisi ingin mengejar benda itu, disisi lain ingin berlari jauh sekali dari benda tersebut.


Sepertinya saya ingin berdamai dengan diri saya dulu. Beri saya waktu. Sedetik saja tidak usah lama-lama. Ingin saya yang dulu kembali lagi. Ingin tertawa selalu, tersenyum selalu yang semakin hari saya sadari tak mungkin terjadi yang seperti itu terus-menerus. Dua puluh tahun, terlalu banyak hari-hari yang sudah saya lalui dengan penuh senyuman, apakah pada titik ini saya harus benar-benar merasakan pahitnya kehidupan?


Ya ya ya.. now, I’m ready to fall.


I miss my smile, lately. I want you to come again. Here. In a generally me. The whole me. Not just a part of my body. OR if there’s an angel reads my blog right now, please do come to me as soon as possible JUST for giving me ONE simple precious smile.. And then you may fly away again..




Cheers and Smile!

Dhea.

4 comments:

Manipulation Photografer said...

wah dea jangan pandang hidup itu berat.tapi liat sisi positifnya dari kehidupan km yang berantakan itu.coba lah ubah gaya rambut kmu seperti orang2 di suku sasak. mungkin aja klo rambut km disasak bisa menghilangkan kesialan km dalam hidup km ini yang ga penting itu. udah cukup 20 taun km berada dikolong jembatan megap2 melihat sekeliling km yang telah berubah.
sudah lah akhiri saja hidupmu itu jangan sungkan ataupun malu...karna emang ga ada yang mengharapkan km hidup didunia ini, begitu pun aku

dheaditya's said...

ahahaha..
tapi klo harus ubah gaya rambut sihh.. lebih baik tidak..

Astri Lestari said...

antara kaki, pikiran dan hati itu yg plg bsa bkn kita nangis emg hati. karna hati yg plg ngerti kita.

seringkali kita saking g kuatnya, dan hati yg saking takutny g kita percayai, bikin kita jadi terlalu fokus sama kaki dan pikiran kita.hati kita sensitif. dia cengeng. bkin kita g tau apa yg hrsny dilakukan.

tpi ada jalan yg g bsa dcari sama kaki ato pikiran kita, tpi cma bsa kita cari sama hati...

someone told me that, and now i'm trying to listen my heart... :D

dheaditya's said...

iya tri..
setuju..

ehehehe..