Saturday, August 2, 2008

Life is a Menu

Hidup, cerita serta pernyataan atas pertanyaan adalah sebuah misteri. Yang bisa kita perbuat adalah menjalaninya dengan tulus tanpa harus banyak mengeluh. Juga menikmatinya dengan senyuman serta memerankannya dengan kejujuran(i.live.and.die.with.smile)


Eleven years ago..


Pada suatu malam, sepertinya penuh bintang, saya dan keluarga kecil saya pergi makan malam disebuah restoran steak di Jalan Braga Bandung. Kami berempat duduk manis di meja lingkaran yang diatasnya dipenuhi alat makan berbahaya untuk anak seumuran saya saat itu.

Silahkan, ini menunya

(mas-mas waiter berkata seraya menyodorkan buku besar berwarna cokelat kepada ayah, mama dan mbak Iyenk)

ayah, menu itu apa?


Seingat saya, ayah tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut . Dan saya pun semakin penasaran. Rasa penasaran saya tidak berhenti sampai disitu rupanya. Kemudian saya mulai melancarkan aksi selanjutnya..


Mas pembawa buku, aku koq gak dikasi buku? Aku kan mau baca juga bukunya.. Itu buka apa,mas?

(Begitu banyak pertanyaan saya, namun yang mas-mas tersebut lakukan hanyalah melemparkan senyuman TIDAK manis)


Sejujurnya, saya gak butuh senyuman yang saya butuhkan adalah jawaban tentunya. Pertanyaan ‘menu itu apa’ merupakan sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab namun perlahan saya mulai terbiasa juga dengan kata ‘menu’ meski saya tidak tahu definisi paling tepat untuk menjelaskan apa itu ‘menu’ sebenarnya. Seiring berjalannya waktu, setiap kali saya ke tempat makan manapun bersama siapapun, selalu saya orang pertama yang bilang, “mas/mbak, aku minta menunya yaa..” Hihi


Back to present..


*Oke. Sekarang mulai ke bagian seriusnya,ya..


Menu-menu yang selama ini saya lihat adalah tentang pilihan. Mau pilih makanan apa saja semua ada di menu. Yang perlu kita lakukan adalah menujuk satu atau beberapa nama serta menyesuaikannya dengan kondisi di dompet. Menu lainnya adalah seperti yang sering saya lakukan dengan komputer tersayang, si pintar itu memberikan banyak hal yang bisa saya pilih namun tergantung juga dengan skill yang saya punya,tentunya. Bisakah saya mengoperasikannya dengan baik? Atau hanya sekedar coba-coba alias trial and error?


Kata kunci yang bisa saya pakai dalam melihat atau bahkan memilih menu-menu tersebut sepertinya jatuh pada kata penyesuaian. Dapatkan kita menyesuaikan diri dengan apa yang sudah kita pilih dan menerima segala konsekuensi yang ada atas pilihan kita tersebut? Jika tidak, apakah jalan terbaik adalah tidak memilih?


Banyak orang bilang,

coba dulu aja, soal nanti bagaimana,kan, kita belum tau pasti


(Saya kurang begitu suka dengan pernyataan itu)


Kata guru IPA saya waktu SD,

Hidup itu bukan nanti bagaimana, tapi bagaimana nanti..


Apa yang kita lihat dan pilih sekarang tentunya akan mempengaruhi kisah kita dimasa mendatang. Prinsip trial and error yang sering saya lakukan terhadap kamera saya, nyonyos, menyadarkan diri saya bahwa ini semua hanya buang-buang waktu saja. Selain jatah shutter kamera semakin berkurang, saya jadi semakin tidak menghargai karya-karya saya sendiri. Kenapa? Karena dalam otak saya terpatrikan pikiran bahwa karya-karya tersebut bisa bagus karena ada jutaan foto terbuang percuma dan hanya inilah yang terbaik. BUKAN karena saya sudah berpikir sebelumnnya, frame seperti apa yang ingin saya buat dan seperti apakah sesungguhnya yang saya mau. Ternyata, tingkat kedewasaan saya belum bisa sampai ke taraf itu,ya.


Tapi setidaknya, saya sudah bisa mulai menyadari, bahwa hal-hal yang sederhana seperti analogi saya diatas bisa memunculkan tamparan tersendiri bagi diri saya. Bahwa sudah banyak sekali hal konyol yang saya lakukan tanpa saya pikir telah begitu banyak menyita waktu saya dengan sangat sia-sia.


Dan ya, life is a menu. For me, for you, for us..




Cheers for life!

Dhejih.


2 comments:

deszya yulian said...

“Hidup itu bukan nanti bagaimana, tapi bagaimana nanti..”

even pak boenfie sama pak djito juga pernah bilang gini.

tp, emg bener bgt ya, phrase itu.. :)

dheaditya's said...

iya deshia..
semua guru nampaknya memang berpikiran layaknya tauladan..

ahahahahahaha!!