Wednesday, August 6, 2008

secuil kue lapis Part II

cerita ini memiliki bagian awal yang merupakan cerita bersambung. Kenapa bersambung? karena memang ada sambungannya.. ahahahahaha! (klik:part I-nya dulu ya buat yang belum baca) :D


Nash mengikatkan tali penyambung hidupnya untukku. Dan untuk kesekian kalinya, aku bisa berpaling dari kesedihan akibat dari keberadaannya yang cerah ceria itu. Nash tak pernah sesekali pun mengeluhkan tentang kebutaan pandangannya atau ketidakberdayaannya dalam berbicara. Hal tersebut membuatku merasa bahwa ia sesungguhnya akan baik-baik saja. Dia sangat lemah namun tak sedikitpun ia menunjukkan kelemahannya padaku. Padahal aku tahu dalam dirinya berusaha sekuat mungkin untuk bisa terus bertahan hidup.


Suatu malam aku pernah berkata padanya,

Hei, kamu tidak sendirian, Nash. Ketika kau mulai merasa tak kuasa lagi menahan perihmu, datang dan peluklah aku. Menangis dan berteriaklah sekencang mungkin. Aku akan selalu dan selamanya ada disini.


Mata Nash kemudian berkaca-kaca. Ia menjatuhkan diri dari kursi rodanya dan menangis. Akupun memeluknya dengan penuh tanya. Aku ingin tahu apa yang ada didalam pikirannya. Namun sejujurnya, ia takkan pernah memberikan jawabannya padaku. Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, satu hal yang dapat menyatukan kami berdua hanyalah senyuman. Aku merasakan perih yang sama. Namun aku bukanlah manusia yang mudah meneteskan air mata. Nash mengalihkan kepalanya ke suatu tempat yang bercahaya, ia tak bisa melihat, namun ia bisa merasakan bahwa cahaya itu tengah mendatangi kami berdua. Dan ya, cahaya itu semakin mendekat.


Nash bangkit sendiri. Tanpa uluran tanganku. Ia berdiri kemudian berjalan. Aku terpaku dalam ketakjubanku. Hanya bisa terdiam dan memperhatikan dengan seksama apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Nash menoleh padaku, dan untuk pertama kalinya ia berbicara padaku,

Sekarang kau lihat cahaya itu, dia datang untukmu. Aku bangkit karena cahayamu memintaku untuk mengajakmu. Disana. Ya, disana, dimana kau takkan pernah merasa kebingungan atau kehilangan arah. Karena semua cahaya akan membantumu menunjukkan jalan.


Sebuah cahaya? Untukku? Bukankah ia datang untuk menyembuhkan segala perih yang selama ini kau rasakan,Nash? Aku tak mengerti.. Aku rasa mereka benar-benar datang untukmu. Bukan untukku..


Aku bertanya, kini, jika aku terjatuh kau akan selalu ada untukku, bukan? Sekarang aku telah menjadi sepertimu, seseorang yang normal dan dapat berbicara serta melihat. Dan kudapat melihat dirimu sekarang secara nyata, kurasa bukan aku yang tengah membutuhkan pertolongan melainkan kau. Malaikat dalam kebutaan dan kebisuanku selama ini, ternyata tengah merasakan pedih yang lebih tajam dibandingkan aku. Bisa-bisanya kau terus membangkitkan semangatku disaat kau merasakan irisan hati yang tiada dua sakitnya bila dibandingkan aku.


Aku terdiam. Lagi-lagi terdiam. Tak bisa melihat. Tak bisa merasakan apa-apa. Tak bisa membalas semua perkataan Nash padaku yang sesungguhnya begitu memilukan. Aku tidak mau Nash membantuku tuk bangkit. Aku tak mau menjadi pengganti Nash. Yang tak bisa berbicara apalagi melihat. Aku bukan Nash!


Membutuhkan sedikit keangkuhan bagiku untuk menolak uluran tangan Nash. Tapi aku berusaha, berdiri sendiri. Dan mengeluarkan seluruh keberanianku untuk berkata,

Aku. Semua yang ada di dunia ini bukanlah tentang aku dan kepedihanku. Cahaya itu memang ada bukan karena aku. Tapi karena memang sudah merupakan tugasnya tuk berada disitu. Nash, jangan kau butakan aku dengan fatamorgana kehidupan yang sesungguhnya hanya menyesatkan jiwa ini. Sekarang aku tahu mengapa dulu kau bisa selemah itu. Karena dalam dirimu tak terdapat sedikitpun keyakinan, bahwa hidupmu adalah tangan dan kakimu sendiri. Kau selalu melihat sesuatu itu diluar dirimu. Entah itu aku atau siapapun atau apapun. Sekarang aku memang tengah merasakan kepedihan tapi aku takkan pernah berusaha menghilangkannya dengan buaian cahaya yang entah akan membawaku kemana..


Inilah puncak dari segala pertanyaan tentang mengapa aku dan Nash takkan pernah bersatu. Ternyata kami hanya merupakan boneka kecil yang telah dipermainkan sang cahaya. Untung saja kucepat tersadar. Bahwa memang aku bukan untuk Nash. Begitu juga Nash bukan untukku. Bukan karena kami berdua yang memilih, namun lebih tepatnya, karena kami terlalu berbeda untuk bersatu. Kini dan nanti, ternyata takkan selalu bersama dalam senyuman. Namun senyuman Nash yang tulus serta tanpa beban itu akan kusimpan baik-baik dalam memoriku selamanya. Karena tanpa keberadaan Nash aku takkan pernah tersadar aku telah banyak mengguratkan asumsi akan keabadian. Bahwa memang benar adanya ungkapan nothing lasts forever. Dan pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan paling mendasar dalam pikiran ini yaitu, “if love never lasts forever, tell me whats forever for?


Ayo dhea bangun! Jangan terus bermimpi yang bukan-bukan.
It’s time for you to shine. And rise, of course. Sambut pagi yang cerah, siang yang terik, sore yang sejuk, serta malam yang penuh bintang*beserta pacarnya bulan sabit*. Hihihi..



---end of story---

No more me and Nash, finally.


PS sebelum PS yg dibawah bgt khusus buat Nash :

Terima kasih ya sudah mau mampir ke kehidupan saya selama bertahun-tahun lamanya. I love you and I always do. *ups, kalo gada yang abadi berarti saya harus STOP bilang ‘always’,dong? Ahahahahahahaha.. Jadi kesimpulannya, I love you and I just DID.


PS: terima kasih buat Tuhan yang sudah menunjukkan jalanNya padaku. Terima kasih juga Tuhan sudah membawakan bulan sabit yang begitu indah beserta bintang-bintangnya. Langit malam yang seperti ini akan selalu kunantikan. Hihihihihi..




Cheers for life!

Dhea.


0 comments: