Thursday, August 21, 2008

Senandung Putih-biru


Peri pendek, lihat disana ada awan berbentuk dinosaurus!

(Ketika itu pun aku menengadah keatas seraya mencari sang dinosaurus yang ia tunjuk)


Secepat itu pula ia berlari mengelilingi lapangan basket seraya berteriak..

Hei, awan itu sekarang membentuk wajahmu.. Jelek sekalii.. Hahahaha!


Aku dan dia melakukan ritual wajib setiap kali bel tanda sekolah usai menuju lapangan basket hingga sore hari menikmati awan cerah dan membuat imajinasi bentukannya sesuai perasaan kami disaat itu. Ini dan itu apa saja, apa saja yang membuat wajah kami melengkung bagai bulan sabit. Kami menjadi penghuni sekolah paling lama di jaman itu dengan pulang sesore-sorenya sore besertakan pakaian lusuh akibat terlalu seringnya kami merebahkan diri di lapangan hijau yang kami sebut ”lapangan cerminan awan magic”. Entah apa yang ada dalam otak kami, semua orang menilai kami adalah pasangan gila.


Peri tinggi, aku ingin awan itu membentuk es krim, bisa tidak?

Tentu saja bisa. Pejamkan saja matamu, pendek.

(entah mengapa aku menuruti keinginannya untuk memejamkan mata)


Peri tinggi telah tiada ketika kubuka mataku lebar-lebar. Tidak ada pula disana bentukan awan es krim yang aku ingini. Peri tinggi hilang beriringan dengan segala keinginanku. Dan yang lebih menyesakkan jiwa ini adalah, hujan turun deras sekali. Aku berjalan pulang sendiri untuk kali pertama disore itu. Aku berjalan ditemani dinginnya udara. Pertanyaan yang muncul dibenakku saat itu adalah, pertanyaan tentang apakah peri tinggiku baik-baik saja disana. Ia pasti berada dalam hujan yang sama denganku. Ia tidak bisa terkena hujan karena apabila iya, ia akan meleleh tak berbentuk. Dalam gaungnya suara hujan saat itu, sayup-sayup terdengar seseorang memanggil namaku..


Pendek, tadi aku terjatuh. Begitu pula dengan es krimmu. Aku berusaha membawakan yang lain, namun aku semakin terjatuh. Dan kau menghilang. Kau berjalan sendiri jauh sekali, pendek. Maafkan aku ya..


Peri tinggi, kukira kau pergi begitu saja. Lihat dirimu. Satu menit kau masih terguyur hujan begini, aku tak tahu kau akan menjelma jadi monster tinggi seperti apa.. Apa sekarang kau sudah berubah menjadi monster tinggi?


Pernyataan dan pertanyaan tersebut berakhir dengan sebuah pelukan manis diantara derasnya hujan yang turun membasahi kedua peri tersebut. Secara bersamaan kami melihat langit hitam diatas kami. Bukan langit seperti ini yang kami suka, namun langit seperti inilah yang mempertemukan keutuhan kami ketika satu sama lain saling menghilang tak berwujud.


Kini tidak perlu lagi berguling-guling di lapangan basket setiap hari, karena sesungguhnya kebahagiaan itu ada dalam hati dan jiwa kami. Nyata dan tidaknya keberadaan salah satu diantara kami takkan menjadi penghalang meluapnya kisah kasih diantara kami.


Beberapa tahun kemudian kami bertemu..


Pendek, sekarang kamu sudah bertambah tinggi. Ada sesuatu dalam dirimu, pendek, entah apa.. dan yang jelas semuanya bertambah..


Bicaramu seperti namamu. Namun entah mengapa aku selalu tahan mendengar kata-katamu yang tak berpola itu. Oh ya! Percaya atau tidak aku masih suka es krim..


Haha, namamu juga selalu sependek keinginanmu. Meski begitu, selalu sulit bagiku untuk memenuhi semua keinginanmu yang dangkal itu. Apakah tingkat intelegensiaku sudah semakin jauh tertinggal dibawahmu, pendek?


Begitulah kami. Putih-biru maupun abstrak yang kami jalani sekarang akan selalu sama saja pada akhirnya. Seiring berjalannya waktu kami pun tak pernah bersama lagi, setidaknya untuk saat ini. Aku dan dia terpisah oleh jarak dan waktu. Ditambah orang-orang lain yang akan kami anggap sebagai lukisan Tuhan yang tak dapat terhindarkan lagi keberadaannya. Namun, aku dan dia sudah pasti akan selalu menjadi peri dalam segala masa yang senantiasa berusaha membahagiakan orang-orang disekitar kami. Lalala. Peri tinggi dan peri pendek, akan selalu menjadi senandung putih-biru dalam kisah kami.



After school, walking home. Fresh dirt under my fingernails. And I can smell hot aspalt. Cars screech to a halt to let me pass. And I cannot remember, what life was like through photographs, trying to recreate images life gives us from our past.

And sometimes it’s a sad song

But I cannot forget refuse to regret so glad I met you, take my breath away make everyday worth all the pain that I have gone through. And mama, I’ve been crying cause things ain’t how they used to be, he said the battles almost won, and we’re only several miles from the sun..

The sun – maroon five

Lagu yang selalu menghiasi perjalanan kami dimana pun kami berada, baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian.

6 comments:

Nana said...

beuuh.. ni orang..
ini cerita bersamanya bukan sih?
ahhh, pokonya di angkot nanti harus ceritain sejelas-jelasnya.

karena lagi-lagi, selalu ada yg janggal dari ceritamu..
hahahhaha.

padahal emang dasar aku nya aja yg ga ngerti.. :D

deszya yulian said...

fiksi belaka yang terasa tidak fiksi, dhe.. :)

*sok tau*

hoho

dheaditya's said...

gak sok tau koq deshiaa..
hihi..

kau sendiri mungkin masih ingat waktu aku menceritakan kisah putih-biruku dengan seseorang dalam diari lucu kita dikelas satu..
hahahaha!

deszya yulian said...

tuh kan

feeling aku juga ttg si 'dia', dhe
yg namanya nangkring di posisi kiri lembar try out SSC

sementara punya kita2.. carinya dari kanan bawah aja.. hahaha

Manipulation Photografer said...

ih nana malu2in dhea bnaget sih ...pulangnya naek angkot..hahahaha~

dhea dhea dhejih!

ngomong apa sih ? haha

dheaditya's said...

hahaha..
iya nih,deshia..
dasar si calon sukses dia sih.



btw ndi,
pertanyaan kamu memang harus dijawab, "ngomong apa,sih??"

=P