Thursday, January 1, 2009

new already!

Inspirasi itu memang selalu datang bersamaan dengan alunan musik. Kali ini musik ‘dingin bermain’ menggema ditelinga saya berulang-ulang. Musik ’dingin bermain’? tidak, tidak, saya hanya mencoba menjadi warga Indonesia yang baik kali ini dengan berusaha menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar tapi ternyata kurang tepat rasanya jika saya sembarang alih bahasa seperti ini. Coldplay adalah salah satu grup musik favorit saya yang tidak akan pernah ada habis(mati)nya. Suatu saat mereka pasti datang kesini (Indonesia) lagi dan sudah mungkin dan/atau pasti saya akan menyaksikan pertunjukan mereka yang spektakuler. Baiklah. Cukup tentang prolog yang jauh dari sempurna untuk bisa dikatakan sebuah awalan yang baik dalam bercerita.


Akhir-akhir ini saya sedang berlibur. Berlibur dalam artian yang sangat luas. Liburnya tidak begitu lama namun ternyata saya bukan tipikal manusia yang suka berlibur. Apalagi diam dirumah meraung-raung atau menggonggong bersama anjing saya. Sebentar lagi liburan saya akan berakhir. Otak(pikiran) dan hati(jiwa) saya sudah sedemikian rupa di defragmentasi untuk kembali ke posisinya masing-masing agar bisa menampung kuota-kuota yang besar kemungkinannya berjumlah ~ alias/ei kei ei tak hingga. Setelah proses defragmentasi, saya mencoba memutar otak untuk mulai berpikir secara serius mengenai tugas dan tanggung jawab saya sebagai manusia secara pribadi maupun sosial. *lama-lama saya tidak tahan menggunakan bahasa seperti ini tapi tetap harus dipertahankan menyesuaikan tuntutan pembaca blog harian saya yang sudah pusing tujuh keliling membaca tulisan saya sebelumnya*


Tanggung jawab dan tugas itu adalah kewajiban. Tapi bukan berarti juga bahwa keberadaan saya sebagai makhluk personal maupun sosial merupakan hak saya atas kewajiban-kewajiban yang saya WAJIB jalankan. Ya. Kurang seimbang memang. Tapi sudahlah, mungkin ini baru secuil dari sejumput tugas yang tidak ada artinya. Karena jika memang ada artinya mengapa saya masih mempertanyakannya?


Berbicara mengenai kuota, seluruh badan(maksud saya: tubuh) saya sudah melakukan aksi pemberontakan di awal tahun dimana saya harus menderita berbagai penyakit stadium satu per seratus alias tidak parah-parah amat, tapi lumayan berhasil menghambat aktivitas sosial saya yang cukup padat. Bayangkan saja, tiga hari terbaring tak berdaya seperti liliput di sore hari yang kehabisan gula merah. Saya sadar, saya memutar otak terlalu keras hingga sedikit mengalami kebengkokan seperti yang terjadi pada kursi putar di kamar saya. Tidak lama sebelum saya terbaring tak berdaya, saya melakukan aksi gila dengan berputar-putar diatas kursi hitam ajaib saya seraya memegang kamera untuk melakukan sedikit percobaan yang dinamakan fotografi eksperimental. Namun sayangnya dalam putaran sekitar 360o dikalikan sepuluh, kursi hitam ajaib itu mengeluarkan suara menyeramkan begini kira-kira, ”KRAK..KRAK..BRUK..” Saya hanya bisa tertawa miris mengelak dari rasa pegal yang diyakini akan segera mengeluarkan warna biru-biru lebam dalam pigmen kuliat saya, seraya menyaksikan proses patahnya sang kursi akibat overdosis(ini bahasa indonesia,kan?).


Sebenarnya ini menjelaskan beberapa hal secara implisit maupun eksplisit bagi saya. Tahun ini jangan lagi-lagi melakukan sesuatu secara berlebihan. Cukup orang lain saja yang melakukannya dan saya hanya menjadi penonton setia daripada aksi-aksi berlebihan yang mereka lakukan, selama itu TIDAK dilakukan terhadap saya. Sedangkan pesan eksplisitnya adalah untuk mulai mengurangi aksi makan ala pasukan bar-bar. Karena ternyata itu bisa saja membuka peluang terulang kembali bagi kursi-kursi lain untuk merasakan penderitaan yang sama dengan sang kursi hitam ajaib yang ada dikamar saya.


Ups.


Rasanya memang harus kembali ke dunia nyata.

Jari kaki dan jempol kaki kiri kanan, juga tangan saya secara kompak menyilang satu sama lain tanda tak janji akan pesan yang tertulis secara eksplisit tadi.


Pertanyaan yang perlu diajukan oleh pembaca(maupun penulis) adalah: inti dari tulisan ini apa sebenarnya?


Jadi ini adalah tulisan pembuka di awal tahun 2009. Dimana saya menyadari banyaknya tugas dan tanggung jawab baru yang harus saya jalankan suka atau TIDAK suka. Dan bahwa tidak setiap tanggung jawab itu menghasilkan sebuah tuntutan hak untuk kita pertanyakan, bahwa ada beberapa hal yang perlu dilakukan atas dasar sukarela dan itu sah-sah saja hukumnya. Hal lain, adalah mengenai bagaimana saya(kita semua) harus dapat mulai mengetahui dengan pasti sejauh mana kemampuan kita yang tentu disertai keterbatasan agar tetap dapat selamat menjalankan kehidupan di hutan rimba yang dipenuhi macan-macan trio atau dewi-dewi pershit atau bahkan teman tapi monyet dan berbagai kemungkinan buruk lainnya.


Itu saja menurut saya. Oh iya, karena saya sedang berusaha menjadi warga negara Indonesia yang baik, mulai sekarang saya akan menulis dengan bahasa Indonesia saja. Jika memang kalian dari warga negara lain yang berkehendak untuk membaca blog saya, siapkan saja kamus bahasa Indonesia edisi EYD karja J.S Badudu, dijamin semua kata-kata disini dapat kalian temukan disana.




Salam hangat sehangat teh hijau kepala jenggot karya orang tua,

Dhea Aditya.

1 comments:

Gita P Djausal said...

jadi...
salah satu hal yang kamu lakukan adalah menggunakan bahasa indonesia.

hihihi...
semoga sukses selalu dengan memenuhi kewajiban dan mendapatkan hak.