Thursday, April 16, 2009

kecil berbicara mengenai besar

Jika malam biasa mengantarkan kesendirian, seperti suasana saat ini. Jika dalam kesendirian terdapat ketakutan. Apakah malam memang diciptakan untuk menghadirkan refleksi dalam diri? Disini, diruangan ini, tidak ada apa-apa kecuali benda mati. Bercermin pada benda mati, merefleksikan diri secara sempurna, mengupas batin yang berteriak pada jeruji hati yang terus-menerus terkunci rapat.

Lain halnya dengan siang. Terang penuh dengan kejelasan serta refleksi yang lebih beragam daripada yang malam antarkan. Siang ditemani matahari dimana awan pun tidak malu-malu menunjukkan kreasinya menggambar bebas. Wajah-wajah hidup pun berserakan. Semua hidup dan terasa nyata.

Selama ini, mungkin saya terlalu terbuai dengan hangatnya matahari dan sapaan wajah hidup peneman kisah. Selama ini rasanya terlalu bergantung pada refleksi benda hidup yang ternyata seringkali semu. Di pagi yang buta ini, mata saya terbuka lebar. Kini yang tengah berada di hadapan saya adalah diri saya sendiri. Ketika semua kata 'saya' disemburkan ke permukaan hampir setiap saat, kini saya mulai merasa mual dan jijik. Saya saya saya saya selaluuu saya. Selalu memikirkan diri sendiri. Bagaimana jika saya begini bagaimana jika saya begitu.

MALU rasanya.

Terima kasih kepada malam yang akhir-akhir ini justru berbalik menjadi tumpahan refleksi diri serta menjadi sahabat baik dikala tugas menumpuk bak gunung jayawijaya. Jika saya boleh memilih saya ingin berganti kehidupan menjadi manusia di malam hari. Karena disini ada banyak hal baru yang perlu perlu perlu ditelusuri tentu dengan bantuan kaca pembesar.

Siang, kamu istirahat dulu sajalah...



Masih belum mau tidur.
Tapi Tuhan tolong berikan semua orang mimpi indah yang kemudian akan terwujud di pagi harinya ya..
Hari ini saya tabung dulu mimpi indah yang biasa Tuhan kasih buat saya, hehe...




salam tempel,
dhea.


1 comments:

d e s z y a said...

kamu kamuu
aku merasakan hal sama juga

terima kasih, malam, buat kita berdua ;)