Thursday, October 22, 2015

Makna Integritas & Kejujuran yang Sesungguhnya

Hi Blogger, Blogspot, Silent Reader...


Tepatnya hari ini saya memutuskan untuk membuka kembali blogspot karena oh karena setelah direnungkan sekian lama, khususnya untuk kejadian hari ini, hanya media ini yang selalu setia untuk menemani keluh kesah dan kisah kehidupan saya yang ada-ada aja yang aneh.

Ok, langsung ceritanya saja boleh ya..



Alkisah pada hari Rabu minggu keempat di bulan Juli, saya dan dua teman kantor saya memutuskan untuk mencari-cari tempat berolah-raga berbayar guna memotivasi Kami agar dapat hidup lebih sehat dan bugar. Kami memutuskan untuk melakukan survey kecil-kecilan di sebuah mall di kawasan Prof Dr Satrio yang memang cukup dekat dengan lokasi kantor Kami. Awalnya Kami coba tanya-tanya soal Kelas Pilates namun jadwalnya tidak cocok dengan rutinitas Kami. Tercetus lah ide menuju sebuah gym yang ada di mall tersebut untuk bertanya soal program dan kelas-kelas yang tersedia.

Kira-kira waktu itu waktu menunjukkan pukul.... 8 malam.


Di Gym tersebut, Kami disambut dengan baik dan dikenalkan dengan satu membership consultant a.k.a marketing yang bisa Kami tanya-tanya terkait fasilitas yang ada di gym tersebut. Kami cukup tertarik dengan kelas yang tersedia dan juga fasilitas yang ditawarkan. Melihat ketertarikan tersebut, sang marketing seolah tidak ingin melewatkan kesempatan emas untuk memperoleh customer baru. Akhirnya jurus-jurus "promo" ia berikan kepada Kami. Saat itu saya merasa negosiasi diantara Kami memang cukup alot, karena pertama, sebenarnya Kami bertiga datang hanya untuk sekedar tanya-tanya. Kedua, biaya yang disebutkan marketing tersebut masih diatas rata-rata jika dibandingkan tempat gym lain. Maka terjadilah proses tawar-menawar yang cukup melelahkan diantara Kami dan sang marketing saat itu.

Saya perlu menyatakan bahwa saat itu Kami tidak memaksakan kehendak dan tidak sedang terburu-buru juga dalam mengambil keputusan, jika memang Kami merasa belum cocok dengan harga yang diberikan juga tidak masalah, Kami akan coba cari tempat lain. Namun, sang marketing bersikeras agar Kami dapat join sehingga ia pun semakin menekan harga sedemikian rupa hingga Kami benar-benar tidak tega untuk meninggalkannya begitu saja. Singkat cerita akhirnya Kami pun join membership gym tersebut dengan hati lelah karena negosiasi berlangsung hingga cukup malam sampai mall-nya mau tutup. Soal paket harga yang diberikan memang Kami nilai sangat murah sih. Bisa dibilang hampir sama dengan harga membership kakak saya yang sudah hampir 8 tahun menjadi anggota di gym tersebut.

(ya, dan mungkin itu kesalahan Kami yang pertama..)

Satu bulan berjalan, Kami pun (masih)dengan penuh semangat rutin ke gym sepulang kantor mengikuti program free trial personal trainer, kelas-kelas favorit Kami atau sekedar latihan alat-alat untuk mengencangkan bagian-bagian yang masih bergelambir. 

Hingga saatnya Kami mengetahui fakta bahwa.. deal Kami dengan sang Marketing berujung kerugian dan ketidakjelasan atas aturan main yang tidak pernah dijelaskan sebelumnya. Kerugiannya antara lain sebagai berikut:

Pertama, keanggotaan Kami pada bulan ke-4, 5, dan 6 secara sepihak dinonaktifkan. Hal tersebut Kami ketahui begitu Kami menerima email pada awal bulan kedua sejak Kami join keanggotaan gym tersebut.

Kedua, saat saya complain dan mempertanyakan email tersebut, sang marketing menyatakan bahwa benar keanggotaannya sengaja dinonaktifkan agar memperoleh biaya lebih murah dibanding yang lain namun ia menambahkan lagi meski keanggotaan tersebut  dinonaktifkan, Kami tetap dapat melakukan latihan meski hanya di home club (gym tempat Kami mendaftarkan pertama kali).

Ketiga, marketing tersebut tidak lama kemudian resign.

Keempat, saya berinisiatif menanyakan staf marketing lainnya tepat satu hari sebelum bulan ke-4 berjalan guna mengkonfirmasi apakah benar Kami tetap boleh melakukan latihan saat status keanggotaan Kami dinonaktifkan. Karena akan tidak mengenakan jika saat saya datang untuk latihan, saya akan ditanya hal-hal yang sesungguhnya tidak saya pahami. Dan jawabannya marketing pengganti ini sangat berbeda dengan pernyataan marketing sebelumnya. Ia menyatakan bahwa Kami sama sekali tidak boleh latihan dimanapun selama masa non-aktif tersebut. Saat itu saya merasa... bahwa saya telah menjadi korban penipuan atas deal yang sebelumnya kami sepakati. Bahwa marketing yang telah resign tersebut seolah mencari celah atas sistem yg ada di gym tersebut agar seolah ia mencapai target mendapat pelanggan namun juga seolah memberikan benefit lebih kepada pelanggan. Saat itu sejujurnya saya sangat kecewa karena semuanya serba tidak transparan.

Kelima, marketing pengganti yang dengan baik mau tetap mendengar keluhan saya memberikan solusi sementara atas issue ini. Pertama, keanggotaan Kami dapat diaktifkan kembali yang artinya akan diberlakukan biaya normal. Atau Kedua, mereka akan memberikan guest pass agar Kami tetap dapat melakukan latihan di club lain, selain di home club. Saya sempat ragu atas solusi kedua ini, karena seolah-olah saya datang bukan sebagai anggota member melainkan walk-in agar bisa berlatih di club lain selama keanggotaan saya sedang tidak aktif. 

Untuk poin kelima ini, perlu saya jelaskan juga sih kenapa Kami tetap tidak memilih solusi pertama, karena secara prinsip, marketing sebelumnya sudah mengatakan bahwa dengan deal harga seperti itu Kami tetap bisa berlatih seperti biasa. Akan sangat tidak adil jika ujung-ujungnya Kami harus membayar harga normal karena awalnya Kami pun sudah menyatakan bahwa Kami tidak tertarik jika harus membayar dengan harga normal. 

Keenam, saya mencoba menerima solusi kedua untuk datang ke club lain menggunakan guest pass. Dimana pada akhirnya, hari ini saya pun terkena impact atas solusi kedua ini. Di club lain di kawasan Semanggi, saat saya datang membawa guest pass terdapat staf marketing yang mendatangi saya karena tentunya saya dianggap sebagai prospek new client beliau. Saat saya sedang berlatih, ia pun melakukan cross check data dan ditemukanlah bahwa ternyata saya sudah terdaftar sebagai member. Seusai saya berlatih dan hendak pulang, identitas saya ditahan dan saya dikonfirmasi beberapa hal yang membuat saya tidak nyaman. Seolah saya adalah penipu yang melakukan tidak kriminal. Seolah saya adalah pembohong yang mengaku-ngaku tidak memiliki keanggotaan pada gym tersebut.

Tiga kata yang bisa saya katakan saat itu(dan rasanya harus diungkapkan dalam bahasa inggris)

i feel humiliated. 

Long story, short. I am a victim of scumbag marketing. 

Tentu banyak hal yang bisa tergambarkan dari cerita saya diatas. Bahwa manusia tetaplah manusia dengan segala kebodohannya. 

Ketika kita bekerja disebuah institusi, tentunya kita sedang membawa nama institusi tersebut bersama kita. Dan ketika kita mencurangi orang lain atas nama institusi tersebut, dimanakah prinsip integritas diletakkan?

Hal lain, ketika kita berupaya berlindung dari kesalahan orang lain dengan mengajarkan orang lain untuk berbuat keburukan, tidak adakah nilai kejujuran yang tertanam dalam diri kita? 

Saya hanya bisa berharap bahwa saya tetap akan membawa prinsip integritas dan kejujuran dalam setiap langkah karena hanya itu yang bisa membawa kedamaian jiwa dalam menjalani kehidupan. Kebetulan juga saya adalah seorang banker yang juga dikejar target, tapi saya janji sama diri saya sendiri bahwa saya gak akan merugikan orang lain hanya untuk mencapai target yang diberikan perusahaan.

Karakter lah yang akan menentukan kesuksesan seseorang. Bukan uang. Bukan jabatan.

Well.
Terima kasih semua sudah sudi membaca celoteh malam saya. Setidaknya saya lega sudah bisa mulai nulis lagi. Ya banyak orang bilang, orang bisa produktif kalo lagi emosi atau lagi galau.

Next time saya akan coba share hal-hal seru lagi ya seperti postingan saya sebelum-sebelumnya.

Good night selamat dini hari.

Salam olah-raga,
Dhea(yang super kelebihan energi, yang sebenernya suka sekali sama tempat gym itu karena bisa menyalurkan kelebihan energinya secara baik dan benar).

1 comments:

Unknown said...

Luar biasa si marketing nya, panggil manager nya aja buat minta klarifikasi gimana dhe?
Pelajaran berharga nya, kudu waspada kalau melakukan sesuatu dengan harga yang lebih murah dari yang lain nya ya ~ semangat olahraga!